Label

Minggu, 14 Juli 2013

FIRST PROM NIGHT

Karya Nasya 

Rasa berdebar masih kurasakan dan masih dirasakan juga oleh tiga sahabatku di rongga dada kami. Karena kami untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di SMA sebagai anggota warganya, tepatnya sebagai siswi.
"Ouch,maaf... maaf, saya tidak sengaja" ucap Aida kwatir yang ditabraknya akan marah.
"Hei... hei... santai aja! Saya tidak apa-apa kok, santai. Cepetan masuk, bentar lagi bel" kata cowo' yang pake batik sama dengan para guru. Dan dia punya tinggi dan tampang yang lebih, maksudnya tinggi ideal dan ganteng.

Aku beda kelas dengan tiga sahabatku. Aku di X-2, Tiwi di X-7, Aida dan Rika di X-6. Maka dari itu aku harus pulang sendirian di hari pertama MOS. Soalnya hari Senin kelas X-1 dan X-2 mesti PBB dulu. Kelas selanjutnya PBB di hari berikutnya. Aduh tambah apes ini hari.

First Prom Night
Aduh, HP pake acara low lagi. Pulangnya gimana ni. Masa musti jalan kaki?! Ampe gempor juga belum sampai. Mana dah sore, angkutan udah enggak ada! Mampus deh aku. Sempurnalah sudah kesialanku di hari ini.
"Hai!!! Kamu yang tadi jadi paskib ya?" sapa cowo' tadi pagi.
"Och, ya... ya itu saya. Kenapa pak?" jawabku.
"Cuma mau pastiin aja. Lagi tunggu angkutan ya? Tapi ini udah sore. Arah rumah kamu ke timur kan? Ayo aku boncengin, kebetulan kita searah" rentetan ucapan cowo' itu.
"Ah, tidak usah pak, nanti ngerepotin. Tuh ada bus. Aku naik bus aja. Terima kasih tawarannya" ucapku ngaco, karena rumahku enggak bisa dijangkau pake bus. Dan berharap Cowo' ini cepet pergi.
Cowo' itu masih nangkring di atas motor kerennya. Dia ngeliatin aku sambil senyum, saat aku nyetop bus, dan busnya enggak berhenti. Dan dia ngacungin helm ke aku. Terpaksa aku terima helm dari cowo' itu.

Cowo itu mengantarku seperti dia sudah tau rumahku. Tanpa aku bilang berhenti di depan rumahku dia sudah berhenti.
"Terima kasih atas tumpangannya pak. Saya enggak tahu gimana nasib saya kalo bapak enggak datang tadi" ucapku dengan agak malu.
"Ya, sip...! ohya, kalau di luar jam KBM, kamu panggil aku kakak aja dech ya. Kadang aku geli sendiri. Aku kan lum punya anak bahkan istri pun belum, masa di panggil pak, rasanya gimana gitu. Namaku Fatah, guru TIK baru di SMA" ucapnya sambil mengulurkan tangannya yang besar.
"Namaku Tasya. Aduh pak maafkan saya bukannya tidak mau, tapi rasanya kurang sopan jika saya panggil bapak dengan sebutan kakak" ucapku sambil membalas uluran tangan Pak Fatah.
"Aku minta kamu panggil aku dengan kakak itu karena aku pengen punya adik cewe', dan lagi pula aku udah kenal kamu sebelumnya. Kamu anak yang ringan tanggan" terang Pak Fatah.
"Hem, kenal saya sebelumnya?" tanyaku dengan alis yang menyatu.
"Iya, saat kamu tolongin saya kemarin, inget?" ucap Pak Fatah.
"Tunggu dulu, apa bapak tinggal di gang Rahula, yang kemarin ngejar-ngejar truk sampah?" ucapku dengan rasa geli mengingat hal lucu itu.
"Yapz, dan kamu ngejar-ngejar truk itu dan menyuruhnya untuk mundur. Dan... jangan keras-keras yang bilang ngejar-ngejar truk sampahnya, aib itu. Dan satu lagi, aku pernah lihat kamu mau nanggis saat kucingmu di serang kucing lain. Dari situ aku tahu kalau kamu itu seorangg yang penyayang" ucapnya dengan senyum yang lebar menghiasi wajahnya. "Dan, boleh enggak kalo aku panggil kamu dengan ade?" ucapnya.
"Asal bapak enggak bakalan ngasih saya nilai jelek,becanda kok! Boleh, lagi pula memang kak Fatah masih belum pantas di panggil bapak, becanda! Hehe, serius! Kakak punya kakak?" candaku.
"Punya. Mau tahu berapa?" tanyanya cekikikan. "Tujuh cowo' semua. Dan satu ade juga cowo'. Makanya aku pengen punya adik cewe', begitu" ucapnya.
"Oke kalo gitu kita deal! Aku juga kangen dipanggil ade lagi. Soalnya kakakku sudah meninggal. Hem, ohya mau mampir?" tawarku.
"Aku turut berduka. Enggak, makasih kapan-kapan aja. Oke aku pulang dulu ya. Jangan sungkan main ke rumahku ya" katanya.
Rasanya asik bisa dengar aku dipanggil ade lagi. Rasa sepi yang selalu datang ketika aku tidak bersama sahabat dan kakakku itu sirna sudah. Aku sering datang ke rumah kak Fatah bersama sahabat-sahabatku. Apalagi adik kak Fatah yang namanya Fano satu kelas denganku, dan kini menjadi sahabatku juga. Aku dan sahabat-sahabatku diterima dengan baik oleh keluarga Kak Fatah, dan juga sebaliknya. Dan bahkan sahabat-sahabatku boleh memanggil kak Fatah dengan panggilan kakak.
###

Tak terasa sudah satu tahun berlalu. Pelajaran, guru, dan karyawan semuanya funky. Kak Fatah yang masih muda, lajang, dan juga ganteng, satu tahun ini menjadi idola para murid.
Hari Sabtu yang fun, udara sangat sejuk. Hari ini tahun ajaran akan segera usai. Seperti biasa di akhir tahun ajaran akan diadakan acara yang sangat digemari oleh para siswa. Di acara ini banyak yang mempergunakan untuk menunjukan perasaannya kepada belahan hatinya, dan ajang pamer baju baru. Ya, nama acaranya Prom Night, dan ini adalah prom night pertamaku.
"Ohya, Tasya, kamu udah dapet teman buat prom night?" Tanya Fano yang membuat mukaku merah merona. Karena aku udah di ajak ma orang paling ganteng dan terkenal di sekolahanku.
"Sudah, kau tahu siapa dia? Argh... dia Rian. Aku enggak bisa bilang enggak. Maaf Fano! Ohya Aida belum dapet tuh!" ucapku girang.
"Ohya, tentu. Kau pasanganku Aida" ucap Fano.

Malam pun menyapa kami. Rian pun sudah menjemputku, dan kami langsung pergi ke sekolahan. Aku di sana bertemu Rika dengan Bimo, sang pakar kimia, cocok dengan Rika yang pekerja keras. Dan juga, Tiwi bersama Egi si jago ngedance, dan aku bersama dengan Rian si kapten sepak bola kebanggaan sekolah. Och, aku kok enggak ketemu Aida dan Fano ya, dimana sih mereka?!
"Cukup Rian, aku sudah kenyang, benar-benar kenyang" ucapku sambil menahan tangan Rian yang mau menyuapiku kesekian kalinya.
"Kalo begitu ayo ikut aku!" ajak Rian sambil menuntunku kebelakang sekolahan yang penuh dengan pohon-pohon besar, dan sebuah gudang yang menyeramkan. Rasa kwatir dan heran mulai menyelimutiku.
"Dan inilah kejutan untukmu. Kau takut? Ohya tentu, jawabannya takut" ucap Rian sambil mengambil pisau lipat di saku jas-nya. Dia mulai mendekatiku dan berbisik di telingaku.
"Kau adalah anak pembunuh ayahku. Dan kau tahu kenapa kakak tercintamu bunuh diri? Hahaha... tak ada yang tahu, karena aku yang mendorongnya dari lantai tiga kampusnya. Dan jangan coba macam-macam denganku. Karena itu tidak akan membantumu. Tapi akan membuat loe lebih cepat mati. Jadi, diam dan turuti gue!" ucap ancaman dari Rian.

Aku tak dapat berbuat apapun. Aku hanya diam membisu. Dia... dia yang membunuh kakakku. Dan apa yang dia maksud dengan membunuh ayahnya? Pikiranku tak dapat berpikir dengan jernih.
"Loe pilih bunuh diri loe sendiri atau gue yang bunuh loe? Jawab! Woi... punya mulut enggak sih loe? Jawab bego!" bentak Rian.
"Argh, ya...! Sebenernya apa salahku padamu atau ayahmu?" tanyaku dengan badan yang gemetar dan dingin.
"Loe pinggin tahu salah loe apa? Hah...? oke gue akan cerita ke loe. Emang loe enggak salah, tapi bokap loe dan geng-nya yang dah ngancurin hidup keluarga gue. Bokap loe dan geng-nya ngeracunin bokap gue ampe mati. Enggak ape situ aja, bokap loe juga pecat nyokap gue. Dan gue pinggin bokap loe ngrasain sedih dan sakitnya kehilangan kedua anaknya dengan cara yang enggak wajar. Loe tahu GUE BENCI KELUARGA LOE, termasuk loe!" terang Rian dengan amarah yang meluap-luap.
"Aida bawa Tasya lari! Rian kamu kurang ajar!" ucap Fano sambil menerkap Rian yang membuatku terpaku, kakiku lemas, aku hanya diam di tempat walau aku ditarik-tarik oleh Aida. Aku terpaku pada baku hantam Rian dan Fano.
Tak lama kemudian, terdengar gemuruh banyak sepatu yang semakin lama semakin dekat. Kakiku tak sanggup lagi menopang badanku, akupun ambruk ke tanah, menanggis bagai anak kecil.

Baru ku sadari aku sudah berada di kamari di kelilingi oleh orang-orang yang ku sayangi.
"Hem... ayah, katakana padaku jika bukan ayah yang membunuh ayah Rian, katakana yah!" pintaku dengan air mata yang mulai keluar.
"Kau tahu Tasya, ayah tak tega melukai kucing kesayangan mu, walau ayah tidak suka kan? Masa ayah tega membunuh orang! Itu tidak mungkin" jawabnya dengan wibawa. Dan ayah menceritakan dari awal, dan itu membuatku lega.
"Ohya, mana Aida dan Fano? Aku harus berterima kasih" tanyaku dengan mata melihat sekeliling. Dan menemukan sosok yang kucari.
"Kami di sini, Tasya" ucap Fano.

Aku tersenyum, dan... hei tangan Fano, aku langsung bangun dari tempat tidur.
"Kenapa ini? Kenapa tanganmu Fano? Pasti kena pisaunya Rian ya? Oh... aku minta maaf ga..." ucapaku terhenti saat telunjuk tangan Fano ditempelkan di bibirku.
"Hei, tenang aja, aku masih hidup kan? Luka seperti ini bukan masalah, demi kamu Tasya. Asal kamu selamat" ucap Fano yang membuatku ingin menangis. Aku langsung memeluk sahabatku itu dengan erat.
"Dan,aku mencintaimu Tasya"bisikan Fano di telingaku yang membuatku melompat mundur.
"Apa? Kau gila Fano! Kau gila mengatakan itu di depan orang banyak seperti ini!" ucapku dengan air mata yang mengalir.
"Aku gila? Ya memang gila, karena aku telah mencintai gadis yang cengeng" ucap Fano sambil menghapus air mata yang membasahi pipiku, dan Fano memelukku.
Seisi kamarku tertawa yang membuat suasana menjadi hangat.
Dan inilah kisah first prom night ku yang tak berjalan mulus, tapi akan aku kenang. Karena aku mendapatkan pacar yang mencintaiku dengan tulus, yaitu Fano.
Dan nasib Rian, och... lupakan orang itu!

PROFIL PENULIS
Nama: Anasyah Dwi Nugraheni
FB: Nasya Steven Filan
Email: nasya_nugraheni@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar