Label

Minggu, 14 Juli 2013

TAKE ME OUT

Karya Anasya Dwi Nugraheni
“Hei… loe” panggil seorang wanita padaku. “Hei… tunggu gue Rasya!” pinta wanita itu. Aku berbalik dengan ogah-ogahan karena aku tahu itu suara siapa, Dea. Dia mantan anggota kelompok olah ragaku. Tapi gara-gara dia tidak suka pada seseorang yang juga anggota dari kelompokku, maka dia keluar dan pindah ke kelompok lain. Aku agak marah gara-gara itu. Sangat tidak dewasa.Aku balik badan walau terpaksa. “Ada apa?” tanyaku judes sambil menekuk sebelah kakiku dan bertumpu pada satu kaki lainnya.“Gua nyontek tugas akuntansi loe dong. Gua ga’ paham walo secuil pun. Ayolah, please” bujuk Dea sambil menyodorkan buku laporan yang bermotif batik. Dia gadis yang sangat membosankan dan malas. Dia mengenalku dan tahu namaku itupun karena aku mempunyai otak yang kata teman-temanku lebih dari rata-rata. Jika tidak, dia takkan menganggapku pernah dilahirkan di dunia ini.“Jika kau tidak bisa seharusnya kau minta diajari bukan nyontek. Dan aku belum mengerjakannya,” ucapku terus terang pada Dea.“Hei… gue sibuk, ga’ da waktu wat beginian”ucap Dea sambil membuka dan membolak balik halaman buku laporannya. “Nanti jam tiga gue ada pemotretan. Kalo loe mau bantu gue, tar nama lo gue sebut-sebut terus deh pas wawancara. Ok gimana?” bujuk Dea yang sama sekali tidak mempan buatku. Tapi karena aku terburu-buru dan jika aku tidak mengerjakan tugas itu untuk Dea dijamin aku tidak akan boleh pergi. Ingin rasanya ada pangeran berkuda putih yang menarikku dari kepungan Dea.
Take Me Out
Baru saja aku ingin menerima buku laporan Dea, tapi ada sebuah tangan yang besar menepuk bahuku, dan itu berhasil membuatku kaget dan lebih beruntungnya tanganku dengan otomatis mendarat di dadaku sebagai tanda kekagetanku.“Hei… Rasya. Ngerjain akuntansi bareng yuk!,” ucap Gio. Oh astaga... baru saja aku berpikir pangeran berkuda putih datang dan menyelamatkanku. Gio pangeran berkuda putihku. “Helloow… anybody home?” Tanya Gio karena aku tak menjawab atau mengucapkan sepatah katapun.“Ouch… sorry… let’s do it together,” ucapku pada Gio. Ohhh… damai sekali tatapan matanya, membuatku sangat teduh dan aman. You are my hero,Gio.“So, how about me?” Tanya Dea sok penting. “Loe ga’ bol…” kata Dea terputus karena Gio mendendangkan lagu yang sangat tidak merdu untuk didengar. Namun, itu berhasil membuat Dea tak meneruskan kata-katanya. “Diem deh loe. Suara loe tu bisa buat kiamat 2012 terjadi” ucap Dea sengit.Sebelum sempat Dea mengucapkan kata-kata yang kasar dan menyakitkan, Gio berseru untuk lari. “Rasya…. Ruuuuunnn!!!”. Sebenarnya aku masih terpaku akan anganku tentang pangeran berkuda putih yang menyelamatkanku. Tapi, seketika itu anganku buyar karena seruan Gio dan tarikannya untuk mengikutinya berlari.Gio… suatu nama yang aneh. Mungkin karena jarang mendengar atau bahkan tak pernah ada yang memiliki nama yang sama. Whatever, yang aku tahu dia orang yang baik, ceria, tapi jahil.***“Waduh… gila!! Ngelembur lagi ni. Astaga akuntansi please dehhh” keluh Anis. Memang tugas akuntansinya sangat banyak. Pekerjaanku saja sampai sepuluh lembar folio. Sebenarnya tidak capek mengerjakan akuntansinya. Namun, membutuhkan waktu yang lama untuk membuat formulirnya. Apalagi dosennya minta dengan cara manual.“Ya memang begitukah akuntansi. Kerjain sekarang aja. Nyicil. Sekarang ga’ ada kelas kan?” suruhku yang dilakukan oleh Anis walau dengan menggerutu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah temanku yang satu ini.Baru lima menit Anis berhenti menggerutu dan mulai fokus pada pekerjaannya, datanglah Putri dengan berlari-lari dan nafas yang memburu-buru. “Hei hei…. Akuntansi mana akuntansi?” Tanya Putri sambil berlari mendekati kami.Mereka berdua pun berbagi pekerjaanku. Lagi asik-asiknya chating-an dengan orang India, pintu kelas dibuka dengan cepat dan kasar. “Siapa di antara kalian yang single? Ga’ punya pacar maksudnya” Tanya laki-laki yang berdiri di depan pintu. Walau pertanyaannya aneh, tapi aku pun mengangkat tangan tanpa ada sepatah kata pun yang keluar walau sebenarnya aku ingin bertanya “Untuk apa kamu bertanya seperti itu”. “Bagus” kata laki-laki itu mendekatiku. “Fian” ucap laki-laki itu sambil mendekatiku.Dari ekspresi wajahnya terlihat ada yang tidak beres. Dan betul saja, dia mendekatiku dan menarikku untuk mengikutinya. “Ayo ikut gue” ucap Fian sambil mulai melangkah. “Oh ya… buat loe berdua. Tak usah kwatir. Gue ga’ akan berbuat macam-macam. Akan gue kembalikan Rasya kumplit, tak kurang apapun juga, ok ledies?” ucap Fian kembali melangkahkan kakinya.Sebenarnya siapa si Fian ini. Memang aku sering satu kelas dengannya. Namun, selama ini aku dan dia tak pernah bertegur sapa sama sekali. Orang aneh. Kata itu yang langsung melekat di jidat Fian ini.“Mau kau bawa ke mana aku? Lepasin aku. Sakit tahu” ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman tangan Fian.Fian pun berbalik dan menggenggam kedua tanganku. Sekarang lebih lembut tentunya. Aku berharap tak ada yang melihatnya. “Please, bantu gue. Kakak gue nyuruh teman gue buat pantau gue udah punya pacar atau belum. Jadi gue mau loe jadi pacar gue. Ya atau jadi pacar pura-pura gue”.Aku tercengang dengan pernyataan Fian. “Pacar? Gila aja kamu. Kenal juga barusan” ucapku sambil menempelkan taganku ke kening Fian. “Terus untungnya buat gue apa?” Tanya ku ingin tahu. Aku tak ingin rugi, itu prinsip ekonomi. Aku ingin kerja sama ini saling menguntungkan bagi kedua pihak.“Apa pun yang loe minta gue turutin deh. Yang penting loe mau. Kalo loe ga’ mau, kakak gue mesti paksa-paksa gue buat pacaran ma temennya yang super gendut. Oh ya satu lagi yang mesti loe tahu, gue dah dari dulu perhatiin loe. Gue tahu nama loe, tanggal lahir, dan apa yang loe suka dan yang ga’ loe suka. Tapi gue ga’ punya keberanian buat bilang kalo gue..”. agak sebel, gara-gara kata-kata Fian terpotong di kata yang sebenernya romantis dan aku sangat menikmatinya.Aku pun menunggu sampai Fian kembali bicara. “Sebenernya gue… gue suka sama loe”. Akhirnya sambungan kata yang terpotong itu tepat dengan dugaanku.“Wohoho… aku piker ini hanya kesepakatan bisnis, bukan komitmen” ucapku meralat.“Jika itu mau loe, apa daya. Gue ga’ berhak maksa loe. Loe mau bantu, gue udah seneng banget. Gue bakalan kasih loe imbalan. Gimana, setuju?” bujuk Fian sambil menyodorkan tangan besarnya padaku. Aku pun menjabat tangan besar itu untuk tanda persetujuanku untuk menjadi pacar pura-pura-nya Fian.“Ayo ikut aku” ucap Fian tak menarikku lagi. “Jika kau ditanyai apapun, aku mohon biar aku yang menjawabnya”. Aku hanya mengangguk.Sampailah kami berdua di mana mata-mata dari kakak Fian duduk. “Hei… kenalin nih pacar gue. Udah tahu kan siapa namanya? Loe orang yang pertama kali tahu lo. Loe kan sohib gue dari kecil” ucap Fian santai walau jantungnya sangat terasa di bahu kananku, karena dia memelukku seakan aku pacar aslinya.Ketika temannya berbalik badan. Gio… astaga ternyata mata-mata kakak Fian adalah Gio. Aku tak bisa berbuat apa pun. Aku mencintai Gio, tapi aku tak mempunyai hubungan dengannya kecuali teman. Tapi, aku memiliki hubungan dengan Fian, walau hanya sebatas pacar pura-pura. Aku hanya diam dalam pelukan Fian dan berusaha untuk tersenyum walau ku rasa itu kurang berhasil.“Rasya”. Namaku yang perama kali dia sebut. Rasanya aku hampir meledak. Hatiku sakit. Aku hanya tersenyum pada Gio. “Oh… selamat untuk kalian. Aku berbahagia untuk ini. Dan kau Fian, beruntungnya mendapatkan Rasya. Jaga dia baik-baik”. Entah hanya perasaanku saja atau memang Gio kecewa dengan ini. “Oh ya Rasya, nanti malam mungkin aku tak jadi ke kost-anmu. Aku yakin Fian akan main ke kost-mu. Aku ke kelas dulu ya”. Dia pun pergi meninggalkan senyuman yang menyayat hati. Gio I’m sorry.Sisa kuliahku berjalan lancar seperti semester-semester lalu. Kehidupanku juga bahagia bersama teman-teman yang menyayangiku. Hubungan Fian denganku pun berjalan baik. Walau kesepakatan bisnis kami sudah berakhir. Namun, setiap bertemu dengan Gio semuahnya runtuh. Bisa saja aku mengatakan pada Gio jika aku sudah putus denga Fian, dan mulai mendekati Gio lagi. Tapi, aku tak cukup percaya diri dan berani untuk mengatakannya.***Tujuh tahun sudahku lewati dengan lancar. Selesai kuliah aku tak perlu repot-repot door to door ke perusahaan mencari pekerjaan. Perusahaanlah yang mecariku. Banyak orang yang bilang aku gadis yang sangat beruntung. Ya, ku rasa memang begitu. Tapi, dunia asmaraku tak selancar dunia karirku. Selama aku kuliah dan kerja tak pernah sekali pun aku pacaran. Walau banyak yang mengajakku untuk pacaran, bahkan menjalin komitmen sebagai suami istri.Orang tuaku sudah berulang kali menanyakan kapan aku menikah. Oh Tuhan bisakah kau beri tahu orang tuaku agar lebih bersabar. Aku sedang menikmati pekerjaanku. Tapi, jika dipikir-pikir benar kata orang tuaku. Wanita yang belum menikah dan menjadi ibu itu bukan wanita seutuhnya. Dan jika mempunyai suami, hidup akan lebih ringan. Ehm… entahlah, akan lebih ringan atau berat.“Rasya, tahun depan umurmu sudah dua puluh lima tahun. Tak pernah kamu berpikir untuk berkeluarga. Bunda ingin menggendong cucu dari kamu”. Oh Tuhan… lagi!! Bisakah mereka memahamiku. Aku ingin menikah hanya sekali, jadi aku membutuhkan waktu untuk menyeleksi para calon suamiku.“Ok Bun, gimana jika aku ikut Take Me Out?”. Oh shit. Apa yang aku katakan. Ikut Take Me Out. Och… iklan sialan. Ku rasa aku sudah gila. Bunda akan membunuhku saat ini juga. “No no Mom. That’s not my means. I mean is…” ucapku terpotong ketika melihat ekspresi Bunda.“Rasya, that’s good idea. Bunda sangat mendukungmu. Kapan kamu akan mendaftar?” Tanya Bunda terlihat antusias.“Quickly. I promise”. Promise? Not anymore. Oh…. Kurasa aku memang benar-benar gila. Tapi, bunda sangat senang dengan ide konyolku. Apa boleh buat, akan ku coba.***Akhirnya aku berdiri di panggung Take Me Out. Aku merasa menjadi wanita murahan.Pria kesatu, pria kedua, pria ketiga, pria keempat. Oh… mereka sangat membosankan. Dan kurasa pria kelima tak jau beda dengan mereka berempat. Hemp… aku sangat tidak menikmati ini, tak seperti wanita di sebelahku yang bernama Jennie. Dia antusias sekali. Empat pria dia selalu menyalakan lampunya. Oh…Pria kelima keluar. Tanpa dugaan aku langsung tertarik dengannya. Belum ku lihat wajahnya. Namun, kurasa kami akan cocok. Pria itu menggunakan backsong My Love by Westlife.“Ladies… inilah pria terakhir untuk malam ini”. Ucap host dengan penuh semangat. “Pria yang sangat menarik, perkenalkan dirimu”.“Nama saya Gio. Saya dari Semarang”. Apa? Siapa? Gio? Langsung aku pelototin pria itu. Ya tak salah lagi. That’s my hero, Gio. Akhirnya aku bertemu dengannya lagi. Tapi, waktunya tak tepat. Pasti dia akan menilaiku murahan. Tapi, dia pun mengikuti acara ini. Sekarang aku dan dia sama-sama zero.“Girls, tentukan pilihanmu”. Untuk saat ini aku tak ingin cepat-cepat mematikan lampuku. Alasan pertama pria itu adalah Gio. Kedua, si Jennie ganjen ini masih saja menyalakan lampunya.“Wow wow… ternyata pria kelima ini sangat menarik bagi para wanita single di sini. Dan… lihat Gina. Ahirnya masih menyalakan lampunya. Apa pria ini sangat menarik bagimu?”.“Hemp… sebelumnya aku ingin bertanya padanya. Boleh?” tanyaku pada host pria itu. Dan jawabannya sudah banyak orang tahu, “Tentu”. “Gio, kamu masih ingat Rasya Gina?”. Jika dia masih ingat, aku akan mempertahankan lampuku. If not? Jika tidak, aku akan mengutukku karena telah mempermalukan diriku sendiri.“Rasya. Oh tentu. Dia teman baikku yang sangat cerdas. Hai… lama tak jumpa”. Oh God, thank you so much. Dia masih mengingatku.“Hai juga” ucapku malu-malu. “Oh… aku ingin mengatakan sesuatu yang penting bagiku, jika ini tidak penting bagimu, tak usah dipikirkan. Aku dan Fian tak pernah pacaran”. Oh God, setan apa yang sedang ada di pikiranku. Kenapa aku mengatakan hal ini?!“Senang mendengarnya, dan itu sangat penting bagiku” ucap Gio sambil senyum lebar. Aku hanya bisa terheran-heran dan merasa lega. Karena acara memalukan diri sendiriku tak begitu ketara.“Haha… ternyata mereka teman lama. Ledies… harus berhati-hati. Buatlah pria ini memilih anda”. Aku merasa kecil. Mereka cantik-cantik. Walau entah sifat mereka seperti apa. Siapapun yang dipilih Gio, aku harap dia wanita yang terbaik dari semuanya.“Ok, bung silakan matikan lima belas lampu dan sisakan dua tetap menyala. Lakukan dengan cepat!” suruh host yang berwajah tampan itu. Aku berdoa agar Gio tak akan mematikan lampuku.“Wah… ternyata lampu Gina tidak dimatikan”. Selamat. Tapi, rivalku adalah Jennie. “Bung, berikan satu pertanyaan, untuk dua wanita single yang cantik ini!”. Inilah saatnya menjawab pertanyaan Gio dengan baik tetap dengan gayaku sendiri. Aku tak ingin menjadi orang lain.“Ladies, jika kalian berada di antara dua pilihan yang sulit. Antara janji atau orang yang kamu cintai. Mana yang kalian pilih?”. Pertanyaan apa-apaan ini.Jennie menjawab akan memilih cintanya. Oh… sudah ku duga. “Gina, apa jawabanmu?” Tanya host itu.“Ahm… kau tahu apa jawabku”. Aku tak ingin menjawabnya. Karena Gio sudah tahu apa yang aku pilih. Tentu janji yang aku pilih. Seperti dulu aku memilih janji membantu Fian dari pada Gio.“Wah… ternyata Gina, wanita yang misterius. Sangat menarik”. Oh terima kasih untuk pujiannya, tapi itu tak membuat suasana lebih baik. “Bung matikan satu lampu dan bawa wanita yang anda pilih ke tengah panggung”.Napasku memburu. Sampai terasa sesak. Gio mulai mendekati kami berdua. Napasku sudah tidak teratur sekarang. Sekarang dia berdiri di antara kami berdua. Aku menundukkan kepala dan memejamkan mata.“Wah… Gio memilih teman lamanya untuk menjadi soulmate-nya”. Apa? Teman lama? Apa itu berarti aku? Aku memberanikan diri untuk membuka mata. Dan ada tangan besar yang disodorkan kepadaku. Dengan seketika kakiku lemas, seperti tak memiliki tulang.“Aku suka dengan pilihanmu, memilih janji daripada cinta. Sungguh bijaksana”. Aku hanya bisa tersenyum lebar dan menyambut tangan sang pangeran.“Selamat-selamat untuk kalian. Kalian memang berjodoh. Dan Take Me Out yang mempertemukan kalian” ucap sang host yang tak begitu berarti. Yang penting Gio sekarang adalah miliku.Gio, I LOVE YOU.PROFIL PENULISNama: Anasya Dwi Nugraheni/NasyaFB: Nasya Steven FilanEmail: nasya_nugraheni@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar